Sabtu, 14 Maret 2015

Bahagia itu Sederhana

Bahagia itu sederhana
Dengan seseorang yang rela melakukan apa saja
Demi melihatmu bahagia
Melakukan hal-hal sepele dan kejutan tak terduga
Hal yang bisa membuatmu tertawa 

Bahagia itu sederhana
Sesederhana menemukan dirimu
Berkenalan denganmu
Berbincang dengamu
Dan menjadi bagian dari dirimu

Namun mencintaimu tidakalah sesederhana aku merasa bahagia
Dengan seluruh tingkah lakumu yang jauh dari perkiraanku
Dengan seluruh sifatmu yang seakan berubah setiap jamnya
Dengan seluruh sifat kekanak-kanakanmu

Lalu mengapa aku masih memilihmu ?
Karena aku mencintamu
Ya, Sesederhana itu


Sabtu, 03 Januari 2015

PENYEBAB STRES DAN CARA MENGATASINYA

Hai sahabat sukses! Kali ini aku akan membahas hal yang sering kita alami, tapi sering pula kita tidak menyadarinya. Apakah itu? Sering kali kita menyebut hal ini dengan Stres. Pertanyaan awalnya adalah, apa stres itu sebenarnya? Apakah stres itu identik dengan seseorang yang memiliki masalah dengan kejiwaannya?

Pasti banyak orang awam yang berpikiran seperti itu, namun stres sendiri memiliki beberapa pengertian..

Menurut J.P Chaplin dalam Kamus Lengkap Psikologi mengatakan
“Stres adalah suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis.”

Menurut Atkinson (1983)
“Stres terjadi ketika seseorang dihadapkan dengan peristiwa yang mereka rasakan sebagai ancaman kesehatan fisiknya maupun psikologisnya.”


Menurut Lazaruss (dalam Rod Plotnik 2005:481)
“Stres adalah rasa cemas atau terancam yang timbul ketika kita menginterprestasikan atau menilai sesuatu situasi melampaui kemampuan psikologis kita untuk bisa menanganinya secara memadai.”

KLISE

Baca via PDF download disini

Siang ini cuaca tak seperti biasanya, matahari sepertinya enggan menjalankan tugasnya dengan baik. Awan hitam mulai menutupi langit, hujan pun mulai membasahi jalanan. Dari dalam toko kopi aku melihat seorang anak kecil dengan riangnya berlari-lari mengejar anak kecil lainnya. Mereka terlihat gembira sekali. Padahal hujan sedang turun, tapi mereka seolah tidak peduli. Mereka hanya  berlari, berteriak, dan tertawa gembira. Bagi mereka, semudah itu mendapatkan kebahagian.

“Huh.” Aku menghela napas. Ini sudah pukul tiga, tetapi orang itu tidak juga muncul. Sudah 1,5 jam aku menunggu sendiri di toko ini. Bahkan pengunjung yang duduk di depan mejaku sudah berganti tiga kali, dan orang itu belum juga datang.

“Aku sudah 1,5 jam menunggu di sini. Kau akan datang atau tidak?” tulisku dalam pesan singkat.

“Kalau kau tidak datang juga, aku anggap masalah kita selesai. Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi padaku.” tulisku lagi. Kutaruh telepon genggamku dan kembali memandang keluar. Langit semakin menggelap, seakan menggambarkan suasana hatiku. Kupejamkan mata, haruskah semua ini berakhir seperti ini? mengapa harus dengan cara ini? Aku sudah berpikir masak-masak akan keputusanku kali ini. Sekarang, aku tinggal menunggu orang itu datang dan mengatakannya.

            Setengah jam kemudian orang itu tidak juga menampakkan batang hidungnya. Dengan kesal aku pun menarik tasku dan berjalan keluar toko. Hujan di luar masih turun, walau sekarang hanya rintiknya saja yang tersisa. Aku berjalan menuju mobilku, mobil keluaran Jepang dengan warna favoritnya, biru. Di dalam mobil aku kembali membuka telepon genggamku, belum juga ada balasan. Aku sudah mengirimkan pesan lima kali dan belum satu pun yang dibalasnya.

“Maunya apa sih orang ini? dia yang membuat janji, dia sendiri yang tidak datang.” Omelku dengan kesal. Langsung saja kunyalakan mesin mobilku dan meluncur pulang.

Jumat, 02 Januari 2015

GRAVITY

Hujan tak pernah begitu menyakitkan
Ketika kau tau, rintik yang jatuh tak dapat berbuat apa-apa
Tak bisa tiba-tiba terhenti dan kembali ke atas
semua akibat gravitasi

Begitu juga perasaan
Cinta tak pernah terasa menyakitkan
Sebelum kau menyadari bahwa kau jatuh kepada seseorang
Tetapi kau tak bisa dengan begitu saja menghentikannya
Semua membutuhkan waktu

Tugas rintik hanya jatuh
Ia percayakan kepada awan yang membawanya
Ia tak bisa memilih untuk jatuh dimana
Tanah tandus, tanah subur, atau sungai yang sudah banyak airnya sekalipun
Ia percayakan saja kepada gravitasi, ia akan jatuh dengan kencang atau perlahan

Tugas hati hanya merasakan
Baik sedih, duka, amarah, benci, suka, maupun cinta
Namun ia tak seperti rintik, ia bisa memilih
Ia bisa memilih kepada siapa ia marah, mengapa ia benci, hal yang membuatnya senang, dan apa yang membuatnya sedih
Tapi perihal cinta, tidak semudah itu
Jatuh cinta tidak bisa memilih
Namun memberikan cinta, kita bisa menentukan kepada siapa emosi itu dipercayakan

Rabu, 26 November 2014

Rumah Nomor 66


Baca via PDF download disini

Jendela itu selalu terbuka sebagian. Tirai putih bersibak tertiup angin, tirai yang selalu menutup bagian yang tak terlihat di balik jendela itu. Jendela dengan kayu kusen jati model kuno ditambah teralis besi berwarna hitam hampir serupa di semua bagian rumah. Rumah gaya jawa yang terdesak oleh rumah gaya modern disekitarnya. Mobil putih keluaran pabrik Jerman setiap pukul 6 meninggalkan garasi rumah, meninggalkan jendela yang terbuka sebagian. Tak pernahkah jendela itu di tutup?

Sudah 5 bulan aku tinggal di seberang rumah bergaya jawa itu. Dan pertanyaanku selama 5 bulan ini juga, apa yang ada di balik jendela itu?  Rumah nomor 66. Tak pernah aku melihat sosok sang pemilik rumah. Saat mobil putih itu meninggalkan rumah, aku baru bangun dari mimpiku dan kembali entah jam berapa, aku tak pernah melihatnya kembali. Mengapa aku tertarik sekali dengan rumah itu ? Entahlah. Mungkin rumah itu mengingatkan aku dengan rumah nenekku yang berada di Wonosobo. Tempat kelahiranku dan masa kecilku. Setiap kali aku berada di rumah nenekku aku selalu merasa nyaman, tentram. Tapi rumah yang di seberang itu –

Observasi di Panti Wreda Sukmaraharja


Say haaii...
Hari ini aku mau berbagi pengalaman pertama kali melakukan observasi. Tanggal 24 November 2014 yang lalu aku dan ke 6 temanku yang lain melakukan kegiatan Observasi mengenai perilaku Lansia di Panti Werdha atau yang biasa disebut panti jompo. Awalnya tugas ini terlihat mudah dan di beri waktu 2 bulun, namun dalam pelaksanaannya ternyata ada saja kendalanya.

            Pertama kita memilih salah satu Panti Werdha di wilayah Jakarta. Namun dengan beberapa alasan akhirnya kita memilih untuk ganti panti (rada slek gitu sama pengurusnya hehe). Akhirnya setelah berjuang lobi sana-sini, kita memutuskan untuk Observasi di Panti Wreda Sukmaraharja yang beralamat di Jl. Pulo Empang RT 04/05 Paledang Bogor Tengah - Kota Kota Bogor.

            Karena kabanyakan teman-temanku berasal dari luar Bogor, akhirnya kita janjian di Stasiun Bogor. Dari stasiun bogor kami naik angkot. Setelah tanya-tanya polisi dan supir angkot, akhirnya kita sampe saat tengah hari. Sampai disana kita  disambut ramah oleh pengurus pantinya. Setelah izin dan admministrasi kita langsung melakukan observasi + wawancara dengan para lansia.

            Secara garis besar, dalam Panti Wreda Sukmaraharja dihuni oleh 60 lansia. 59 diantaranya perempuan dan 1 laki-laki. Namun, saat kami datang kesana, kami sama sekali tidak melihat penghuni panti yang laki-laki. Tempatnya cukup baik walaupun tidak terlalu luas. Satu kamar ada yang dihuni tiga orang, lima orang, dan delapan orang. Walaupun menurut kami fasilitas yang disediakan belum mencukupi, namun menurut pengakuan beberapa lansia yang kami wawancarai mereka merasa cukup dan nyaman berada di panti tersebut.



Beberapa foto hasil dari observasi yang kami lakukan



Kamis, 20 November 2014

RESENSI BUKU : PENGARANG TELAH MATI (Karya: Sapardi Djoko Damono)


RESENSI BUKU: PENGARANG TELAH MATI

 
Design Downloaded from Free Blogger Templates | Free Website Templates