Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Maret 2015

Flash Fiction #1

“Coba aku lihat tanganmu.”

“Sudah kubilang aku baik-baik saja.”

“Bagaimana dengan kakimu?”

“Kakiku juga tidak mengapa, sudahlah jangan pedulikan aku. Tanganmu bagaimana, masih sakitkah?”

“Tidak, tanganku masih bisa digerakan.”

“Kakimu?”

“Masih bisa juga.”

Sudah tiga jam kami saling mengajukan pertanyaan yang hampir serupa.

Kemudian kami bergeming, menunggu.

Tidak berapa lama, terdengar suara retakan dahan pohon.


Dengan sekejap dahan yang menahan mobil kami pun meluncur bersama dengan kami yang saling berpelukan mengucap selamat tinggal.

Sabtu, 03 Januari 2015

KLISE

Baca via PDF download disini

Siang ini cuaca tak seperti biasanya, matahari sepertinya enggan menjalankan tugasnya dengan baik. Awan hitam mulai menutupi langit, hujan pun mulai membasahi jalanan. Dari dalam toko kopi aku melihat seorang anak kecil dengan riangnya berlari-lari mengejar anak kecil lainnya. Mereka terlihat gembira sekali. Padahal hujan sedang turun, tapi mereka seolah tidak peduli. Mereka hanya  berlari, berteriak, dan tertawa gembira. Bagi mereka, semudah itu mendapatkan kebahagian.

“Huh.” Aku menghela napas. Ini sudah pukul tiga, tetapi orang itu tidak juga muncul. Sudah 1,5 jam aku menunggu sendiri di toko ini. Bahkan pengunjung yang duduk di depan mejaku sudah berganti tiga kali, dan orang itu belum juga datang.

“Aku sudah 1,5 jam menunggu di sini. Kau akan datang atau tidak?” tulisku dalam pesan singkat.

“Kalau kau tidak datang juga, aku anggap masalah kita selesai. Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi padaku.” tulisku lagi. Kutaruh telepon genggamku dan kembali memandang keluar. Langit semakin menggelap, seakan menggambarkan suasana hatiku. Kupejamkan mata, haruskah semua ini berakhir seperti ini? mengapa harus dengan cara ini? Aku sudah berpikir masak-masak akan keputusanku kali ini. Sekarang, aku tinggal menunggu orang itu datang dan mengatakannya.

            Setengah jam kemudian orang itu tidak juga menampakkan batang hidungnya. Dengan kesal aku pun menarik tasku dan berjalan keluar toko. Hujan di luar masih turun, walau sekarang hanya rintiknya saja yang tersisa. Aku berjalan menuju mobilku, mobil keluaran Jepang dengan warna favoritnya, biru. Di dalam mobil aku kembali membuka telepon genggamku, belum juga ada balasan. Aku sudah mengirimkan pesan lima kali dan belum satu pun yang dibalasnya.

“Maunya apa sih orang ini? dia yang membuat janji, dia sendiri yang tidak datang.” Omelku dengan kesal. Langsung saja kunyalakan mesin mobilku dan meluncur pulang.

Rabu, 26 November 2014

Rumah Nomor 66


Baca via PDF download disini

Jendela itu selalu terbuka sebagian. Tirai putih bersibak tertiup angin, tirai yang selalu menutup bagian yang tak terlihat di balik jendela itu. Jendela dengan kayu kusen jati model kuno ditambah teralis besi berwarna hitam hampir serupa di semua bagian rumah. Rumah gaya jawa yang terdesak oleh rumah gaya modern disekitarnya. Mobil putih keluaran pabrik Jerman setiap pukul 6 meninggalkan garasi rumah, meninggalkan jendela yang terbuka sebagian. Tak pernahkah jendela itu di tutup?

Sudah 5 bulan aku tinggal di seberang rumah bergaya jawa itu. Dan pertanyaanku selama 5 bulan ini juga, apa yang ada di balik jendela itu?  Rumah nomor 66. Tak pernah aku melihat sosok sang pemilik rumah. Saat mobil putih itu meninggalkan rumah, aku baru bangun dari mimpiku dan kembali entah jam berapa, aku tak pernah melihatnya kembali. Mengapa aku tertarik sekali dengan rumah itu ? Entahlah. Mungkin rumah itu mengingatkan aku dengan rumah nenekku yang berada di Wonosobo. Tempat kelahiranku dan masa kecilku. Setiap kali aku berada di rumah nenekku aku selalu merasa nyaman, tentram. Tapi rumah yang di seberang itu –

Kamis, 20 November 2014

RESENSI BUKU : PENGARANG TELAH MATI (Karya: Sapardi Djoko Damono)


RESENSI BUKU: PENGARANG TELAH MATI

Senin, 25 Agustus 2014

Mimpiku dalam Secarik Kertas


“Gantungkanlah mimpi di langit” kata-kata itu acap kali kita dengar sebagai penyemangat untuk meraih mimpi kita. Aku kurang setuju dengan hal itu. Kupikir jika mimpi itu “digantung” di langit, kita akan sulit menggapainya. Kita akan lebih sering memandanginya, dan jika tertiup angin mimpi itu bisa saja menjadi goyah bahkan berhamburan menghilang.

Jadi, aku lebih suka dengan istilah yang kugunakan sendiri. 
“Genggamlah impianmu dalam kepalan tanganmu” 
Ia tak akan kemana-mana, ia akan selalu ada dalam kepalan tangan kita. Kita hanya perlu menggenggamnya kuat-kuat agar impian kita tak menghilang begitu saja. Ketika mimpi itu hendak jatuh kita mampu meraihnya kembali. Saat kita lelah dan merasa bosan, impian kita itu tinggal kita liat kembali dalam tangan kita dan tekadkan kembali untuk meraihnya.

Hal itu yang selalu aku pikirkan, yang aku pegang teguh hingga kini. Dulu, aku memiliki mimpi menjadi seorang dokter. Ya, terdengar sangat biasa ketika profesi itu diucapkan anak seumur lima tahunan. Seiring berjalannya waktu aku tetap pada tekadku itu. Menjadi seorang dokter. Hingga pada suatu waktu, aku mengetahui apa yang sebenernya aku inginkan.

Minggu, 20 Oktober 2013

Di Balik Hujan (Part : 3)

           1 jam menunggu pemuda itu mulai merasa bosan, ia mulai jenuh dengan bau obat yang menyengat di sekitarnya. ‘sepertinya aku butuh segelas kopi’ pemuda itu menyeretkan kakinya menuju kantin rumah sakit yang berada di barat dan membeli segelas kopi dengan gelas sekali pakai. Aroma kopi panas di campur dengan suasana hujan adalah kombinasi yang tepat. Pemuda itu kembali ke ruang periksa untuk menghampiri gadisnya. Tetapi ia tidak menemukan gadis itu di ruang periksa.

          Dengan segera ia mencari gadisnya itu. Rumah sakit ini bukanlah rumah sakit yang besar, ia yakin gadisnya tidak akan jauh dari situ. Benar saja, pemuda itu menemukan gadisnya sedang di taman terguyur hujan.

“Hei.. sedang apa di situ ? cepat kembali ke dalam. Nanti kamu sakit”
“Bukankah aku memang sedang sakit ?”
“Kamu bicara apa. Ayo cepat masuk kedalam. Kita pulang”
“Sebentar, aku masih ingin di sini”

          Pemuda itu memandang heran gadisnya. Apa gadis mungilnya itu telah ingat kebiasaan lamanya ini ?

“Aku ingin bertanya satu hal padamu”
“Tanyakan saja”
“Apa yang telah kamu lakukan padaku ?”
“Maksudmu ?”
“saat terapi tadi aku mengingat sesuatu. Aku dan kamu sedang di satu mobil, lalu aku menjerit kencang. Apa yang kamu lakukan padaku ?”

          Hening. Suara hujan menjadi latar dalam keheningan yang di buat keduanya. Pemuda itu tidak bisa menjawab.

“Kenapa ?”
“Tidak aku hanya.. aku hanya sulit menceritakannya”
“Aku akan menunggumu cerita”
“Hmm.. oke aku mengaku aku salah. Aku yang menyebabkan kamu menjadi seperti ini. Maaf kan aku karena sejak awal tidak menceritakan kepadamu “
“Mengapa kamu tidak menceritakannya padaku ?”
“Mana mungkin aku bisa menceritakan kejadian itu kepadamu. Kamu tidak boleh dipaksa untuk mengingat apalagi diceritakan hal yang akan membuatmu terguncang.”
“Atau dengan kata lain kamu sengaja menutupi kejadian itu.”
“Percayalah, aku melakukan ini untuk melindungimu. Aku tidak ingin melukaimu lebih dalam lagi. Sudah cukup rasa menyesal yang selama 4 bulan ini menghantuiku. Aku tidak ingin membuat kamu membenciku”
“Aku tidak akan membencimu”
“Belum lebih tepatnya. Kamu boleh membenciku, aku mementingkan kesehatanmu dulu itu sebabnya aku tidak cerita tentang kejadian itu. Sekalipun nantinya, aku harus membayarnya dengan rasa bencimu dan rasa kehilangan sepanjang hidupku.

          Hujan kembali menjadi pengisi keheningan mereka berdua. Satpam berbaju putih hitam yang sedari tadi meneriaki mereka untuk masuk kedalam rumah sakit pun akhirnya menyerah. Membiarkan sepasang kekasih itu mengobrol di bawah hujan.

“Apa dulu kita sepasang kekasih ?” tanya gadis itu setelah diam cukup lama.
“Iya, dulu kita saling memliki satu sama lain. Dulu kita adalah pasangan paling bahagia di dunia. Aku hanya milik kamu dan kamu hanya milik aku”
“Benarkah dulu kita sebahagia itu ?”

          Pemuda itu mengambil tangan sang gadis dan menggenggamnya.

“Apa kamu tidak bisa merasakannya ? lenganku mungkin dapat putus, tetapi genggaman tanganku tak kan pernah lepas. Aku akan selalu ada untukmu. Dalam kondisi apapun. Aku siap berkorban apa saja untukmu.
“Apa kamu ingat, waktu dulu kita pernah pergi ke Bandung. Saat itu hujan turun deras. Aku memberhentikan mobil untuk membeli minuman hangat dan saat aku kembali kamu sudah tidak ada di mobil. Aku panik karena kamu tidak ada di sekitar tempat itu. Setelah hampir setengah jam mencarimu ternyata kamu sedang bermain dengan hujan di taman yang lumayan jauh dari tempat itu.
“Disaat itu aku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan meninggalkan kamu sendiri. Dalam kondisi apapun. Aku akkan melindungi kamu sepenuhnya. Aku akan terus berada disisimu bahkan dalam kondisi mu yang seperti ini.”

“Apa ini cuma sebagai rasa bersalah kamu kepada ku saja ?”
“Gadisku yang manis, aku memang merasa bersalah dengan apa yang kamu alami sekarang. Tapi janji ku itu dibuat sebelum semua ini terjadi. Janji itu dibuat dengan kesadaran ku penuh. Karena aku sayang padamu.
“Sudah banyak kejadian yang kita lalui bersama, aku tidak akan semudah itu melepaskan kisah itu begitu saja. Apa tidak ada satupun yang bisa kamu ingat ? apa yang bisa aku lakukan agar kamu bisa mulai memunculkan memori itu lagi ?”

          Gadis mungil itu menjatuhkan dirinya di pelukan sang pemuda. Sang pemuda hanya diam, terkejut dengan reaksi gadis di pelukannya.

“Apa kamu sudah mengingatnya ?”
“Tidak, Aku tidak ingat. Bukankah kamu sendiri yang bilang aku tidak perlu mengingat ? Katamu aku hanya perlu merasakan. Maka inilah yang aku rasakan. Kamu... hangat”


          Senyum pemuda itu mengembang. Di bawah rintikan hujan, Ia membalas memeluk tubuh kecil yang berada di dekapannya. Iya merasa setelah ini semua akan lebih baik. Memang semua butuh waktu. Yang kini mereka butuhkan hanyalah merasakan satu sama lain. Rasakan semua kasih atau pedih, amarah atau asmara, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan pemuda itu yakin, ia dan gadisnya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk kembali bahagia seperti yang dulu mereka rasakan.


 -FIN-

Rabu, 16 Oktober 2013

Di Balik Hujan (Part : 2)

        Kemacetan sebagai tanda suatu kota metropolitan memang sudah biasa terjadi. Di tambah pada jam-jam krusial seperti ini. Makan siang. Perut orang-orang yang bekerja di gedung-gedung tinggi pencakar langit itu pasti minta segera diisi. Dan disinilah sang pemuda itu berada, di tengah-tengah keramaian lalu lalang kendaraan. Untung saja mobilnya tidak semacam mobil Carry yang jika terkena cahaya matahari Jakarta penghuni di dalamnya bissa matang seketika. Dia bersyukur dengan adanya mobil hasil kerja kerasnya selama ini, tapi ia juga membenci mobil ini karena telah membuat kekasih hatinya sekarang tidak seperti dulu lagi.

          Kejadian itu sudah 4 bulan yang lalu, kondisi gadis mungilnya pun telah membaik dan sudah diperbolehkan pulang kerumahnya. Namun tetap saja, dengan kondisinya yang seperti itu, ia belum bisa memaafkan dirinya sendiri. Pemuda itu melirik jam di tangannya, pukul 13.23. Jam makan siang kantor seharusnya sudah lewat. Ia menarik nafas panjang, hari ini jadwal gadis mungilnya cek up ke rumah sakit dan ia harus mengantarkannya. Bukan permintaan gadis itu pastinya, tapi bukankah ia harus ikut bertanggung jawab dengan apa yang sedang dialami gadis itu ?

          Ah.. pemuda itu sudah tidak sabar lagi terjebak di lingkaran setan ini. Dengan sigap ia membanting stir melewati jalan-jalan tikus andalannya jika terjebak macet seperti ini. 30 menit kemudian ia sampai di rumah bercat biru muda lengkap dengan taman kecil yang dipenuhi bunga melati di depannya. Gadisku sangat suka melati. ‘Apa dia masih munyakainya sekarang ?‘ terka nya dalam hati.

Minggu, 13 Oktober 2013

Di Balik Hujan (Part : 1)

“Hujan.”
“Iya, apa kamu ingat sesuatu ?”
“Sesuatu ?”
“Iya, tentang hujan.”
“Hujan ?”
“Iya, apa yang kamu ingat tentang hujan ?”

Wajah mungil itu menunduk dan bersungut, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang terlontar dari pemuda di sebelahnya.

“Yang aku ingat, hujan itu dingin.”
“Lalu ?”
“Basah, gelap tapi menyejukan.”

          Bibir tipis itu melengkung indah. Pemuda yang sedari tadi menemani gadis itu pun ikut tersenyum melihatnya.

“Ada lagi yang kamu ingat ?”
“Hmm... Tidak. Tapi sepertinya banyak cerita tentang ku di balik hujan.”
“Benar. Kamu sangat menyukai hujan, setiap hujan turun kamu pasti dengan riang bermain di bawah rintiknya. Bahkan saat deras pun kamu tidak pernah memakai payung, ‘hujan itu anugrah, aku ingin merasakan keutuhan anugrah yang dibawa hujan’ itu katamu.”
“Benarkah ?”
“Iya benar. Apa kamu ingat pertama kali kita bertemu ? saat itu aku melihatmu di taman sendirian diguyur hujan yang deras. Ku kira kamu butuh bantuan seseorang karena tidak bisa pulang. Tapi ternyata itu kebiasaan mu saat hujan.”
“Sampai seperti itu ?”
“Iya.”

Pemuda itu menarik bangku dan mulai bercerita tentang kisah mereka dahulu. Gadis itu pun mendengarkan dengan wajah tanpa ekspresi. Dia begitu antusias dengan kisah yang di ceritakan pemuda itu, tetapi tak ada satupun yang berhasil ia gambarkan di wajah mungilnya. Pemuda itu pun tidak kalah antusias menceritakan berbagai pengalaman mereka di balik hujan. Mulai dari awal pertemuan pertama mereka dan pertemuan-pertemuan mereka selanjutnya hingga mereka menjadi satu.
 
Design Downloaded from Free Blogger Templates | Free Website Templates