Sabtu, 25 Januari 2014

Bingung milih Universitas...

Hai hai semua, udah lama gak curhat-curhatan di blog ini. Maka dari itu, kali ini aku akan sedikit curhat tentang apa yang lagi gue rasain. Santai-santai, bukan masalah percintaan dan kawan-kawannya ko, tapi ini merupakan masalah serius yang akan kalian hadapi kalau sudah mendekati akhir kelas 3 SMA. YAP ! apa lagi kalau bukan masalah memilih Universitas.



Sebenarnya ini nyambung dengan post-an gue sebelumnya tentang minat bakat gue yang belum “diketemukan” . Dari sisi itu saja udah buat gue bingung. Beberapa macam artikel yang gue baca, selalu menempatkan minat dan bakat di urutan paling atas untuk memilih Universitas idaman, karena kalau tidak sesuai dengan apa yang kita suka nanti kuliah kita jadi ogah-ogahan. Dan inilah masalahnya, apa yang membuat gue benar-benar tertarik ??? -__-

Kalau di ingat-ingat, dari kecil gue pengin banget jadi dokter (seperti kebanyakan anak kecil lainnya). Umur semakin bertambah, mulai ada minat minat lainnya Guru, Dokter hewan, Dosen, Psikolog, sampai jadi tim kesehatan nya sepak bola favorite gue ._. (ini serius). Tapi, semakin  banyak pilihan, semakin bingung juga untuk memilih. Benar sekali ungkapan 
“Hidup itu pilihan, dan pilihan ada di tangan kita”
 Sedangkan tangan kita ada 2, jadi kita akan selalu bertemu yang namanya pilihan. Kanan atau kiri, maju atau mundur, melangkah atau berhenti, suka atau tidak suka, bergerak atau diam. Semua nya pilihan dan semuanya butuh pertimbangan.

Jumat, 20 Desember 2013

Daun ( Karya : Sapardi Djoko Damono )

     


    Siapa yang bertanggung jawab bahwa daun berwarna hijau ? Hujan sama sekali tidak memasalahkannya. Ia malah agak heran kenapa muncul pertanyaan semacam itu. Ia tahu benar, meskipun berulang kali diiguyur daun tidak juga luntur. Ia juga suka membersihkan debu yang menempel pada daun sehingga tampak hijau. mungkin matahari yang punya ulah itu ; maksudnya menyulap daun menjadi hijau. Habis, siapa lagi ? 

     Tetapi matahari memang tidak pernah menanggapi pertanyaan yang konyol semacam itu ; ia menikmati tugasnya setiap hari sebagai mata uang terus-menerus mengawasi kita. Diam-diam memang diakuinya bahwa ia juga ikut bertanggung jawab atas itu, meskipun tugasnya juga menyihir daun menjadi kecoklat-coklatan, sesuatu yang sebenarnya sama sekali tidak disukainya.

   Jadi, siapa yang bertanggung jawab ? Angin lagi, juga tidak berminat menjawab pertanyaan aneh itu. Sebenarnya ia malah merasa ikut bertanggung jawab atas kelanjutan tugas yang tidak disukai matahari itu. Ia bertugas menggoyang-goyang daun yang sudah coklat agar lekas gugur, sebab tidak jarang daun tetap bertahan pada tangkainya meskipun tidak hijau lagi. Ia juga tidak menyukai tugas ini, sebab jika ada daun yang bersikeras demikin, ia harus berputar sekencang-kencangnya agar daun itu luruh. Tetapi akibat sampingannya adalah terlalu banyak daun yang masih hijau ikut lepas dari tangkainya. Itu artinya ia bisa dianggap sudah melampaui tugasnya.

          Semua itu tidak menjawab pertanyaan siapa yang bertangung jawab bahwa daun berwarna hijau. Tetapi, siapa pula yang mengajukan pertanyaan itu ? gerutu si tukang kebun.
------

Cinta Dalam Doa



Bagaimana caranya menjelaskan rindu 
kepada seseorang yang entah di mana saat ini
Untukmu yang disana,
terkadang mata ini iri kepada hati
Karena kau ada dihatiku namun tidak tampak di mataku

Untukmu yang disana,
Aku tidak memiliki alasan pasti mengapa sampai saat ini masih menunggumu
Meski kau tak pernah meminta untuk ditunggu dan diharapkan
Hati ini meyakini bahwa kau ada
Meski entah di belahan bumi mana

Untukmu yang disana,
Mungkin saat ini kita tengah melihat langit yang sama
tersenyum menatap rembulan yang sama
di sanalah, tatapanmu dan tatapanku bertemu
Maka, saat hatiku telah mengenal fitrahnya
Aku akan berusaha mencintaimu dengan cara yang dicintai-Nya


Minggu, 10 November 2013

Pejamkan Rasakan Tuliskan


Suara jerit di lembayung
Teredam, terikat, terkekang
Bara api di lubuk hati
Terbakar, berhembus, tak padam
Untai kata tak terwakilkan
Resah hati tak terlukiskan
Pejamkan mata, terus pejamkan
Hingga teriakan itu menggetarkan alam fiksi yang ada

Tak terulur oleh waktu
Tak terpecah oleh keadaan
Saat waktu terdiam sesaat, saat itu pula lisan merapat
Waktu, ya waktu
Selalu tentangnya yang tak pernah tepat
Hilang saat raga berupa wujud
Hadir kala raga mulai terkikis
Rasakan, terus rasakan saja
Hingga suatu ketika dentingan itu menyatu
Rasakan, agar tak ada yang hilang saat waktu hadir bersama wujud nyata

Jari terkecil yang berpaut
Membalut kata bersyair indah
Walau nada yang mengalun tak selalu ceria
Syair terus mengalun
Hingga jari kecil itu terlepas
Entah terdorong atau melepaskan
Menghampiri jari kecil lentik lainnya
Bersua, membentuk nada dari notasi yang berbeda
Sepertinya indah
Namun  terdengar sumbang di relung iri
Sejenak ku menuliskan notasi lama yang terdengar indah untukku
Tuliskan, hingga nada usang itu kembali mengalun
Tuliskan, agar syair yang hilang kembali tersusun
Agar kau sadar, nada yang sama akan terus mengalun membuntuti waktu

Minggu, 20 Oktober 2013

Di Balik Hujan (Part : 3)

           1 jam menunggu pemuda itu mulai merasa bosan, ia mulai jenuh dengan bau obat yang menyengat di sekitarnya. ‘sepertinya aku butuh segelas kopi’ pemuda itu menyeretkan kakinya menuju kantin rumah sakit yang berada di barat dan membeli segelas kopi dengan gelas sekali pakai. Aroma kopi panas di campur dengan suasana hujan adalah kombinasi yang tepat. Pemuda itu kembali ke ruang periksa untuk menghampiri gadisnya. Tetapi ia tidak menemukan gadis itu di ruang periksa.

          Dengan segera ia mencari gadisnya itu. Rumah sakit ini bukanlah rumah sakit yang besar, ia yakin gadisnya tidak akan jauh dari situ. Benar saja, pemuda itu menemukan gadisnya sedang di taman terguyur hujan.

“Hei.. sedang apa di situ ? cepat kembali ke dalam. Nanti kamu sakit”
“Bukankah aku memang sedang sakit ?”
“Kamu bicara apa. Ayo cepat masuk kedalam. Kita pulang”
“Sebentar, aku masih ingin di sini”

          Pemuda itu memandang heran gadisnya. Apa gadis mungilnya itu telah ingat kebiasaan lamanya ini ?

“Aku ingin bertanya satu hal padamu”
“Tanyakan saja”
“Apa yang telah kamu lakukan padaku ?”
“Maksudmu ?”
“saat terapi tadi aku mengingat sesuatu. Aku dan kamu sedang di satu mobil, lalu aku menjerit kencang. Apa yang kamu lakukan padaku ?”

          Hening. Suara hujan menjadi latar dalam keheningan yang di buat keduanya. Pemuda itu tidak bisa menjawab.

“Kenapa ?”
“Tidak aku hanya.. aku hanya sulit menceritakannya”
“Aku akan menunggumu cerita”
“Hmm.. oke aku mengaku aku salah. Aku yang menyebabkan kamu menjadi seperti ini. Maaf kan aku karena sejak awal tidak menceritakan kepadamu “
“Mengapa kamu tidak menceritakannya padaku ?”
“Mana mungkin aku bisa menceritakan kejadian itu kepadamu. Kamu tidak boleh dipaksa untuk mengingat apalagi diceritakan hal yang akan membuatmu terguncang.”
“Atau dengan kata lain kamu sengaja menutupi kejadian itu.”
“Percayalah, aku melakukan ini untuk melindungimu. Aku tidak ingin melukaimu lebih dalam lagi. Sudah cukup rasa menyesal yang selama 4 bulan ini menghantuiku. Aku tidak ingin membuat kamu membenciku”
“Aku tidak akan membencimu”
“Belum lebih tepatnya. Kamu boleh membenciku, aku mementingkan kesehatanmu dulu itu sebabnya aku tidak cerita tentang kejadian itu. Sekalipun nantinya, aku harus membayarnya dengan rasa bencimu dan rasa kehilangan sepanjang hidupku.

          Hujan kembali menjadi pengisi keheningan mereka berdua. Satpam berbaju putih hitam yang sedari tadi meneriaki mereka untuk masuk kedalam rumah sakit pun akhirnya menyerah. Membiarkan sepasang kekasih itu mengobrol di bawah hujan.

“Apa dulu kita sepasang kekasih ?” tanya gadis itu setelah diam cukup lama.
“Iya, dulu kita saling memliki satu sama lain. Dulu kita adalah pasangan paling bahagia di dunia. Aku hanya milik kamu dan kamu hanya milik aku”
“Benarkah dulu kita sebahagia itu ?”

          Pemuda itu mengambil tangan sang gadis dan menggenggamnya.

“Apa kamu tidak bisa merasakannya ? lenganku mungkin dapat putus, tetapi genggaman tanganku tak kan pernah lepas. Aku akan selalu ada untukmu. Dalam kondisi apapun. Aku siap berkorban apa saja untukmu.
“Apa kamu ingat, waktu dulu kita pernah pergi ke Bandung. Saat itu hujan turun deras. Aku memberhentikan mobil untuk membeli minuman hangat dan saat aku kembali kamu sudah tidak ada di mobil. Aku panik karena kamu tidak ada di sekitar tempat itu. Setelah hampir setengah jam mencarimu ternyata kamu sedang bermain dengan hujan di taman yang lumayan jauh dari tempat itu.
“Disaat itu aku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan meninggalkan kamu sendiri. Dalam kondisi apapun. Aku akkan melindungi kamu sepenuhnya. Aku akan terus berada disisimu bahkan dalam kondisi mu yang seperti ini.”

“Apa ini cuma sebagai rasa bersalah kamu kepada ku saja ?”
“Gadisku yang manis, aku memang merasa bersalah dengan apa yang kamu alami sekarang. Tapi janji ku itu dibuat sebelum semua ini terjadi. Janji itu dibuat dengan kesadaran ku penuh. Karena aku sayang padamu.
“Sudah banyak kejadian yang kita lalui bersama, aku tidak akan semudah itu melepaskan kisah itu begitu saja. Apa tidak ada satupun yang bisa kamu ingat ? apa yang bisa aku lakukan agar kamu bisa mulai memunculkan memori itu lagi ?”

          Gadis mungil itu menjatuhkan dirinya di pelukan sang pemuda. Sang pemuda hanya diam, terkejut dengan reaksi gadis di pelukannya.

“Apa kamu sudah mengingatnya ?”
“Tidak, Aku tidak ingat. Bukankah kamu sendiri yang bilang aku tidak perlu mengingat ? Katamu aku hanya perlu merasakan. Maka inilah yang aku rasakan. Kamu... hangat”


          Senyum pemuda itu mengembang. Di bawah rintikan hujan, Ia membalas memeluk tubuh kecil yang berada di dekapannya. Iya merasa setelah ini semua akan lebih baik. Memang semua butuh waktu. Yang kini mereka butuhkan hanyalah merasakan satu sama lain. Rasakan semua kasih atau pedih, amarah atau asmara, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan pemuda itu yakin, ia dan gadisnya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk kembali bahagia seperti yang dulu mereka rasakan.


 -FIN-

Rabu, 16 Oktober 2013

Di Balik Hujan (Part : 2)

        Kemacetan sebagai tanda suatu kota metropolitan memang sudah biasa terjadi. Di tambah pada jam-jam krusial seperti ini. Makan siang. Perut orang-orang yang bekerja di gedung-gedung tinggi pencakar langit itu pasti minta segera diisi. Dan disinilah sang pemuda itu berada, di tengah-tengah keramaian lalu lalang kendaraan. Untung saja mobilnya tidak semacam mobil Carry yang jika terkena cahaya matahari Jakarta penghuni di dalamnya bissa matang seketika. Dia bersyukur dengan adanya mobil hasil kerja kerasnya selama ini, tapi ia juga membenci mobil ini karena telah membuat kekasih hatinya sekarang tidak seperti dulu lagi.

          Kejadian itu sudah 4 bulan yang lalu, kondisi gadis mungilnya pun telah membaik dan sudah diperbolehkan pulang kerumahnya. Namun tetap saja, dengan kondisinya yang seperti itu, ia belum bisa memaafkan dirinya sendiri. Pemuda itu melirik jam di tangannya, pukul 13.23. Jam makan siang kantor seharusnya sudah lewat. Ia menarik nafas panjang, hari ini jadwal gadis mungilnya cek up ke rumah sakit dan ia harus mengantarkannya. Bukan permintaan gadis itu pastinya, tapi bukankah ia harus ikut bertanggung jawab dengan apa yang sedang dialami gadis itu ?

          Ah.. pemuda itu sudah tidak sabar lagi terjebak di lingkaran setan ini. Dengan sigap ia membanting stir melewati jalan-jalan tikus andalannya jika terjebak macet seperti ini. 30 menit kemudian ia sampai di rumah bercat biru muda lengkap dengan taman kecil yang dipenuhi bunga melati di depannya. Gadisku sangat suka melati. ‘Apa dia masih munyakainya sekarang ?‘ terka nya dalam hati.

Minggu, 13 Oktober 2013

Di Balik Hujan (Part : 1)

“Hujan.”
“Iya, apa kamu ingat sesuatu ?”
“Sesuatu ?”
“Iya, tentang hujan.”
“Hujan ?”
“Iya, apa yang kamu ingat tentang hujan ?”

Wajah mungil itu menunduk dan bersungut, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang terlontar dari pemuda di sebelahnya.

“Yang aku ingat, hujan itu dingin.”
“Lalu ?”
“Basah, gelap tapi menyejukan.”

          Bibir tipis itu melengkung indah. Pemuda yang sedari tadi menemani gadis itu pun ikut tersenyum melihatnya.

“Ada lagi yang kamu ingat ?”
“Hmm... Tidak. Tapi sepertinya banyak cerita tentang ku di balik hujan.”
“Benar. Kamu sangat menyukai hujan, setiap hujan turun kamu pasti dengan riang bermain di bawah rintiknya. Bahkan saat deras pun kamu tidak pernah memakai payung, ‘hujan itu anugrah, aku ingin merasakan keutuhan anugrah yang dibawa hujan’ itu katamu.”
“Benarkah ?”
“Iya benar. Apa kamu ingat pertama kali kita bertemu ? saat itu aku melihatmu di taman sendirian diguyur hujan yang deras. Ku kira kamu butuh bantuan seseorang karena tidak bisa pulang. Tapi ternyata itu kebiasaan mu saat hujan.”
“Sampai seperti itu ?”
“Iya.”

Pemuda itu menarik bangku dan mulai bercerita tentang kisah mereka dahulu. Gadis itu pun mendengarkan dengan wajah tanpa ekspresi. Dia begitu antusias dengan kisah yang di ceritakan pemuda itu, tetapi tak ada satupun yang berhasil ia gambarkan di wajah mungilnya. Pemuda itu pun tidak kalah antusias menceritakan berbagai pengalaman mereka di balik hujan. Mulai dari awal pertemuan pertama mereka dan pertemuan-pertemuan mereka selanjutnya hingga mereka menjadi satu.
 
Design Downloaded from Free Blogger Templates | Free Website Templates